Aturan Lari

Lari itu olahraga yang sederhana. Tidak ada aturan yang rumit terkecuali lebih cepat atau lebih jauh. Tujuan lari jarak jauh juga sederhana, lebih jauh. Namun, untuk mencapai lebih jauh tidaklah mudah. Musuhnya utamanya adalah cedera.

Saat ini, ada banyak aturan lari yang dibuat para pakar lari. Saya menemukan banyak aturan yang sangat bermanfaat. Namun, dari mulai rutin berlari dari 2013, saya merangking aturan lari yang paling penting.

1.Frequency Rule
-monthly runing > 4×6=24 effective

Ini yang saya pelajari 3 tahun terakhir ini. Lari sangat terpengaruh dengan cuaca. Misalnya tiba-tiba pagi hujan deras maka lari tidak bisa dilakukan, bila ini terjadi hingga lebih dari 2-3 hari, maka jadwal seminggu akan berantakan. Karena menganalisa penyebab sakit/sehat sangat banyak variabel. Maka satu-satunya cara adalah dibuat rutin. Frequency rule sudah pernah saya pakai di Dec 2013, dengan jumlah 24 run.

2.Distance Rule
– weekly distance rule: 10% rule
– weekly long distance rule: 35% rule

Setelah jadwal lari sudah rutin. Maka selanjutnya adalah mengatur jarak yang optimal. Ini sama dengan frequency rule tadi. Musuhnya adalah cidera. 10% rule adalah aturan utama yang saya pegang, ini sudah terbukti dua kali di Jun dan Dec 2016. 35% juga hampir mirip terbukti dibulan yang sama.

  1. Aturan-aturan yang belum dipakai.

– weekly pace rule: 80/20 rule

Ini aturan yang bagus, namun buat beberapa orang -seperti saya. Bisa jadi aturan ini tidak efektif, karena saya jarang (tidak bisa) memaksa tubuh saya untuk punya sesi lari dengan high intensity.

Lari – Sudden Drop

Minggu 1 dan Minggu 2 June 2016, merupakan catatan lari terbaik saya dengan mencapai total 40+ miles per week. Namun yang terjadi di Minggu 3, 4 dan seterusnya adalah ngedrop.

40+ terbukti tidak sustain, angka yang sustain di Oct, Nov dan Dec adalah 30+

Hari ini mencoba lagi masuk di 40+ bertahan di 3 minggu -berharap bisa melewati level psikologis di tiga minggu untuk bisa permanen. Di akhir minggu ketiga mencoba speed baru di 8:35pc. Hasilnya adalah speed drop.

Teorinya kemungkinan besar speed ini butuh waktu untuk bisa stabil. Untuk jarak seharusnya bisa stabil di 40+ kita lihat.

Sebagai inspirasi, lihat di quora: 10 miles everyday

Begitu cepatnya jaman berubah

Tahun 2015 dirumah Wydale, saya masih menonton tayangan cartoon network, semacam My Little Pony dan Ninja Turtles. Saking seringnya sampai membeli figurine, tas hingga kostum untuk hadiah ulang tahun anak. Tidak butuh lama ketika tahun 2016 menjadi tahunnya Minecraft dan tahun 2017 menjadi tahunnya Roblox.

Laptop yang saya gunakan sekarang adalah model terakhir dari Thinkpad dengan aspect ratio 4:3.Sesuatu yang pada awalnya saya tentang namun sekarang malah menjadi pilihan pertama saat menilai sebuah laptop.

Sistem Kompleks

Sistem manusia modern adalah sistem yang kompleks. Ambil contoh persoalan politik, politik sebenarnya sederhana saja mengenai cara mengatur orang. Meski cara yang diambil spesifik, misalnya demokrasi, selalu saja ada ruang untuk berkembang. Contoh perlukah organisasi berbasis identitas diakomodir dalam sistem demokrasi. Dari dulu organisasi ini tidak pernah menjadi masalah misalnya keluarga muslim, keluarga makassar, dan orang tidak pernah mempertanyakan hal ini. Namun ketika hal ini menjadi masalah misalnya ada kekerasan, maka orang akan mempertanyakan hal ini. Orang bisa menchallenge, apakah kekerasannya yang dilarang atau organisasinya yang dilarang.

Sistem ekonomi juga demikian. Dulu, tidak ada kebutuhan perdagangan dari timur jauh. Namun ketika kebutuhan perdagangan dari timur jauh muncul. Maka ada pihak-pihak yang punya inovasi untuk membuat sistem jalur perdagangan lebih efektif. Contohnya Ottoman, yang akhirnya mengalahkan persaingan antara Genoa dan Venice. Sistem politik begitu juga dengan sistem ekonomi selalu dinamis.

Dalam menjual ide, orang bisa saja mengatakan bahwa sistem ekonomi dan sistem politiknya adalah yang paling baik. Dan saat ini semuanya bermain dan berkompetisi dalam ranah sosial media yang sangat dinamis. Sebuah ranah yang tidak pernah industri media pikirkan sebelumnya, juga tidak pernah industri demokrasi bayangkan.

Untuk menggambarkan sesuatu fenomena sosial saja, dari Innovationnya Schumpeter saja bisa beranak pinak banyak sekali. Disruptive Innovationnya Christensen lebih melihat pada dimensi produk, sementara dimensi Technological Transitionnya Geels lebih melihat pada dimensi sosial institutionnya. Kebetulan saja Christensen banyak direfer dunia bisnis dan Geels banyak direfer dunia akademik. Sama ceritanya seperti Porter vs Mintzberg, persaingan ini pun akhirnya dikalahkan dengan tokoh tokoh seperti Zuckerberg.

Semua Salah Pemerintah II

Semua salah pemerintah (baca: belum optimal) itu bisa dikategorikan pada beberapa hal:
– Belum ada peraturannya
– Sudah ada peraturannya tapi conflicting/tumpang tindih
– Sudah ada peraturannya tapi tidak bisa ditegakkan

Akar masalah juga bisa mengerucut pada beberapa hal:
– Moral (People): Korupsi, Malas, Tidak Berpendidikan
– Barrier (People): Pengangguran, Kemiskinan, Kesenjangan, Korupsi
– Infrastructure: Peraturan, Birokrasi, Daya Saing, Physical Infrastructure

Kesalahan terbesarnya mungkin kita tidak jernih dalam melihat.

Semua Salah Pemerintah – Prequel

Saya melakukan wawancara kecil mengenai energi di Indonesia. Sebuah topik yang ujung-ujungnya yang disalahkan adalah pemerintah. Benarkah pemerintah selalu salah? kalau kacamatanya energi, adalah benar bahwa pemerintah selalu salah. Karena, sebuah hal yang baik dan besar hanya bisa dikelola oleh pemerintah. Karena masalah energi tidak bisa diselesaikan oleh Pertamina sekalipun. Sama seperti masalah pendidikan, tidak bisa diselesaikan oleh sekolah.

Pertamina dalam hal ini adalah perusahaan, begitu juga sekolah adalah perusahaan. Untuk bisa besar, maka perlu diatur. Diatur dalam hal bantuan, semisal subsidi atau dalam bentuk larangan. Semisal, perusahaan dilarang menggunakan barang berbahaya.

Enaknya, pemerintah memberikan perintah secara setara. Contoh kalau pengusaha ayam goreng dilarang menggunakan minyak bekas, maka peraturan ini harus berlaku di semua perusahaan. Agar fair, karena kalau tidak fair maka tidak sehat. Akan ada perusahaan yang mati, meski ada perusahaan yang bisa tumbuh -semisal mendapat pengecualian.

Namun kondisi bahwa pemerintah selalu salah ini, bisa jadi bukan kondisi yang baik. Bisa timbul kesan bahwa pemerintah yang sering melakukan kesalahan adalah pemerintah yang tidak kuat. Yang paling buruk adalah bisa timbul kesan bahwa kesalahan selalu dilemparkan ke pemerintah. Contoh karyawan tidak bekerja dengan rajin, karena salah pemerintah yang tidak menjamin UMR yang mencukupi.