Mana yang lebih dulu, politik atau ekonomi?

Kalau konteksnya adalah negara, maka politik datang terlebih dahulu. Kepentingan politik selalu mempengaruhi bagaimana media ditulis. Contoh, kompasiana, kalau dilihat per hari ini, ada banyak artikel yang mendukung pemerintahan saat ini, dengan keberhasilan program Tax Amnesty misalnya. Contoh lain adalah pemberitaan mengenai PON Jabar, arahnya mengkritik Pemda Jabar selaku penyelenggara.

Saya, selalu berusaha mendengar bagaimana arah angin politik berhembus. Kalau angin politik berhembus ke barat misalnya, maka kita harus ikut ke arah barat, kalau berhembus keras ke timur maka kita harus ke timur, kalau berhembus sepoi-sepoi ke selatan, mungkin kita tidak harus pergi keselatan.

Kalau angin sedang kencang-kencangnya, maka kita harus berhati-hati, mungkin kita perlu berhenti menanam lebih dahulu

Hidup bukan pilihan

Saya sebenarnya tidak mau berfilosofi dipagi hari, namun saya pikir saya harus menulis ini karena sedikit saja ide ini akan hilang. Ini tentang pilihan, saya teringat pagi ini, bahwa hidup itu bukanlah sebuah pilihan. Hidup itu masalah menjalani saja.

Semisal, kita memilih antara soto ayam atau ayam penyet. Pilihan ini dipengaruhi oleh alam bawah sadar kita, kebetulan kita ingin makanan yang berkuah. Kemudian ketika memutuskan makanan yang berkuah, ternyata warung soto tutup sehingga kita harus pindah makan ayam penyet. Apakah hidup pilihan? tentu tidak.

Semisal, kita bangun pagi jam 04:00. Kita harus ‘memilih’ apakah segera beranjak dari tempat tidur atau tetap melingkar dengan selimut. Ini bukanlah pilihan, karena beranjak dari tempat tidur selalu lebih baik dari malas-malasan. Selepas bangun, kita harus memilih apakah memakai sampo sunsilk atau lifebuoy, ini adalah pilihan. Namun ketika kita ‘memilih’ antara memakai sampo atau tidak ini bukan pilihan, karena memakai sampo selalu lebih baik. Tapi ingat, disisi yang sama memakai sampo juga selalu bukan pilihan, semisal kita hampir terlambat kekantor.

Lalu kapan kita tahu kapan yang kita hadapi adalah pilihan? buat saya, lebih mudah untuk meyakini bahwa kita tidak punya pilihan. Soto ayam dan ayam penyet bukan pilihan, karena ayam penyet lebih mudah ditemukan daripada soto. Sunsilk atau lifebuoy bukan pilihan karena sunsilk lebih mahal. Sampo atau tidak bukan pilihan, karena saya tidak setiap hari memakai sampo.

Lalu apakah hari ini saya harus bekerja? atau malas-malasan? ini sekali lagi bukan pilihan.

Berhasil dan Gagal

Saya belajar TI, berhasil
Saya belajar saham, gagal
Saya belajar bisnis, gagal
Saya belajar science, gagal

Saya belajar saham gagal total. Saya masuk saham sudah terlambat setelah krisis ekonomi 2008, harapannya bursa saham akan rebound, main aman dengan ambil IPO, gagal. Setelah itu kapok main saham dan berjanji tidak main saham lagi.

Saya belajar bisnis gagal total. Saya buka warung makan, lokasi dipinggir jalan strategis, harus tutup tidak sampai satu tahun.

Saya belajar bikin Youtube gagal. Viewer tidak sampai 100an dalam waktu satu tahun.

Saya belajar science gagal. Setelah dua tahun saya sains hanyalah salah satu aspek kecil dalam ekonomi.

Mengapa saham, bisnis, youtube hingga science saya gagal? menurut saya selain saya hanya ikut-ikutan trend, posisi saya tidak signifikan dalam bidang tersebut. Terlalu banyak saingan, dalam hal semua orang bisa masuk.

Kenapa konten bagus sedikit viewernya?

Video Peter Carey di TedX mengenai Diponegoro hanya ditonton 1,261 dalam waktu 4 bulan (diupload May 2016). Video profil salah satu sekolah hanya ditonton 661 dalam waktu hampir 2 tahun. Saya pernah mencoba membuat video masak yang bisa mencapai 27,000 dalam waktu 1 tahun, cuman satu video saja, yang lainnya mencapai 100 saja susah. Sebagai perbandingan video yang lebih serius, dalam hal effort dan sebagainya hanya mencapai 8,000 view dalam 1 tahun, sama itupun hanya satu video saja.

Jawabannya? tidak tahu

Kenapa orang setiap pagi sukanya makan nasi kuning, namun bila suatu ketika ditawari nasi uduk tidak menolak. Jawabannya? tidak tahu, manusia terlalu kompleks.

Sains bukan segalanya

Beberapa tahun belakangan ini saya berpikir bahwa sains (science/ilmu pengetahuan) adalah segalanya. Science bisa membuat sebuah peradaban maju pikir saya saat melihat bangsa di Mesopotamia sudah mengenal roda sejak 4500 SM. Saya melihat bahwa science punya method yang sudah proven sejak ribuan tahun yang lalu. Metode science dari hypothesis, experiment dan analisa membuat saya takjub.

Masalah baru muncul, terutama dari background saya sendiri -computer science. Bahwa science tidak hanya natural science yang punya scientific method paling rigid, tapi ada social science yang akurasinya sangat rendah -simply berhubungan dengan manusia. Ada juga formal science, macam matematika dan ilmu komputer yang tidak mengenal jargon hypothesis atau istilah-istilah statistik. Bahkan ada applied science, seperti teknik komputer atau semacam akuntansi -yang jelas-jelas tidak menganut prinsip science modern.

Mari kita lihat lebih lanjut. Kalau science memang penting, mengapa yang lebih mudah mendapat pekerjaan adalah anak teknik kimia daripada anak MIPA Kimia, padahal secara keilmuan MIPA Kimia lebih scientific. Atau kenapa anak Akuntasi passing grade-nya lebih tinggi dari anak Ilmu Ekonomi yang lebih paham theory-theory terakhir dalam dunianya.

Kesalahan terbesar science adalah dalam fungsinya sebagai pendidikan. Science yang seharusnya adalah mengembangkan ilmu pengetahuan, sementara yang dibutuhkan adalah lapangan pekerjaan, yang dibutuhkan adalah menggerakkan ekonomi. Dalam hal ini orang tidak perlu membaca buku banyak-banyak, orang harus diajak berpikir untuk mengembangkan dirinya.

Mahasiswa yang kritis bukan mahasiswa yang peka, bukan mahasiswa yang berkontribusi tapi mahasiswa yang bisa bekerja, bisa berfungsi di lingkungannya. Percuma saja membaca Fyodor Dostoyevsky, kalau disuruh bikin laporan penelitian gelagapan.

Apa beda orang berilmu dengan yang orang lain yang tidak?

Orang berilmu adalah orang yang MELAKUKAN sesuatu lebih banyak dibandingkan orang lain.

Anggaplah ada dua orang manager yang sudah bekerja selama 10 tahun. Manager yang pertama 10 tahun bekerja di sales, manager yang kedua 8 tahun di sales dan 2 tahun di MBA. Mana yang lebih berilmu? Tentunya adalah manager yang pertama. Namun pada prakteknya manager pertama dan kedua sama-sama menghabiskan 10 tahun bekerja, tapi ada manager yang sempat mengambil MBA, menunjukkan kemampuannya mengelola waktu dengan baik.

Tapi tunggu dulu, dalam prakteknya mana yang lebih baik manager pertama atau kedua sulit untuk diketahui. Ada banyak faktor. Misalnya manager A lebih suka olahraga, sementara manager B lebih suka musik. Akibatnya mana performance yang lebih baik sulit untuk diukur. Paling baik adalah hanya mengukur dalam aspek yang terukur dilingkungan kerja, misalnya besar revenue yang bisa dihasilkan.

Kalau ukurannya sangat luas maka akan sangat sulit menentukan mana yang berkinerja baik. Salah-salah berat badan hingga baju bisa menjadi faktor penentu karir.

Saya? konservatif saja. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, perlahan namun pasti.

Approach

Kalau ditanya mengenai cara kerjanya ilmu pengetahuan (scientific method) secara umum, orang akan menjawab tahapan dari hypothesis – experiment – analysis. Tapi, kalau ditanyakan pada masing-masing bidang ilmu jawabannya akan berbeda. Orang ilmu formal tidak membutuhkan bukti empiris, orang modelling tidak membutuhkan hypothesis, orang engineering bahkan tidak membutuhkan data collection.

Turun satu level di bawah science (ilmu pengetahuan/knowledge) adalah research. Research merupakan cara memperoleh ilmu pengetahuan tersebut. Research method beragam, ada yang caranya Qualitative, Quantitative (applied) atau Correlation/Regression (economics). Research techniques juga beragam di Natural Science misalnya, ada yang fokusnya adalah pengukurannya (measurement) ada yang fokusnya adalah pengembangan (cell cultures, growth) yang lebih mirip ke engineering (applied)

Bahkan pada prakteknya di dunia kerja, justru yang tidak berpegang pada kaidah scientific method adalah orang-orang yang bisa diterima bekerja. Contohnya adalah jurusan akuntansi dan jurusan IT. Orang IT yang penting bisa coding, orang akuntasi yang penting bisa bikin (atau memeriksa) jurnal.

Orang IT kalau ditanya cara kerja (SDLC method) akan bilang dari Requirement – Design – Build – Implement, beres. Boleh dikerjakan secara berurutan (Waterfall) boleh dikerjakan lompat-lompat (Agile).

Orang Accounting kalau ditanya approach ya hampir sama Planning, Execute, Analyze, Follow up. Cuman kalau ditanya scopenya bisa macam-macam, ada yang membaginya berdasarkan tingkatan risiko misalnya risk based (selective) seluruhnya (substantive). Ada yang membaginya berdasarkan business cycle (external audit), ada yang membaginya berdasarkan produk (internal audit)

Masalah Ilmu Sosial

Dengan ilmu terapan (applied sciences/engineering/health), orang kemudian bisa bekerja (mengamalkan/menerapkan) menjadi tukang las misalnya. Dengan ilmu alam, orang bisa bergegas masuk kedalam rumah ketika awan mendung tiba, atau menggunakan antiseptik saat kena luka. Dengan ilmu bahasa jepang, orang bisa menjadi penerjemah di kedutaan misalnya, dengan ilmu administrasi publik, orang bisa bekerja sebagai PNS.

Masalah, baru terjadi ketika orang berkutat dalam ilmu sosial karena: impact ilmu sosial sangatlah long term, berbeda dengan ilmu alam yang pendek. Ilmu sosial sangat bergantung pada interpretasi. Contoh sebelumnya, mengenai kampanye politik, ilmu sosial bisa melihatnya dari sudut Social Movement atau Mass Communication, sehingga bisa dirumuskan, topik yang paling efektif apa -misalnya topik Kemiskinan atau SARA. Namun untuk merasakan dampak dari ilmu ini sangatlah lama.

Bandingkan dengan melihat motivasi calon Pilkada dari sudut pangan Drive Theory/Attachment Theory yang lebih banyak dari sudut pandang psikologi. Ilmu ini bisa memotret apa yang mendasari individu untuk bergerak. Namun sudut pandang ini pun masih jauh, bandingkan dengan melihatnya dari kacamata biology/instinct sehingga kedepannya bisa dibuat sebuah obat antidepressant yang murah -misalnya.

Social Media, Politics and Economy: Who comes first

Fenomena: Melihat Twitter yang isinya melulu mengenai politik, atau melihat Instagram yang isinya artis, atau Facebook yang isinya teman yang pamer bisa dijelaskan melalui kacamata Sociological Theory. Teori Sociology secara klasik memang terdiri dari 3 besar (Functionalism, Conflict dan Interactionism-Micro), tapi teori sociology juga melihat dari sisi yang lain semisal Social Movement Theory, Criminology, atau Sociology of Science and Technology.

1.Kacamata Social Movement Theory (Context)
Sosial Media diatas bisa dilihat dari kacamata Social Movement sebagai sebuah Resource Mobilization Theory (US) atau New Social Movement (EU), intinya adalah untuk mencapai tujuan tertentu dari sekelompok orang. Social Movement ini bisa menghasilkan sebuah kendaraan yang bisa digunakan oleh individu tertentu untuk mencapai tujuannya.

Sekarang mari kita lihat realita dan beberapa contohya:
Ada gerakan/kampanye FSP BUMN Strategis yang mendesak Kominfo atas Network Sharing. Apa bedanya dengan gerakan/kampanye yang mendesak pembangunan payment switching bank. Network Sharing dibanding dengan Payment Switching secara model bisnis merupakan hal yang sama, namun Network Sharing bisa menjadi agenda politik. Artinya tidak semua agenda bisnis bisa menjadi agenda politics (see, explain this sociologist)

Ada gerakan Smart city, yang menekankan bahwa proses administrasi (governance) pemerintahan agar berjalan lebih efisien. Smart city idealnya tidak hanya mengatur mengenai tatakelola saja, tapi juga transport, energy dan inovasi. Namun pada prakteknya, tidak semua aspek ini bisa diimplementasikan. Sebuah konsep hanya bisa menjadi agenda politik bergantung pada feasibilitynya.

*Sociological theories are statements of how and why particular facts about the social world are related
*Social movements are a type of group action which focus on specific political or social issues

2.Kacamata Mass Communication (Content)
Dari kacamata Mass Communication, fenomena ini bisa dilihat dari sudut pandang Cultivation Theory, Agenda Setting Theory, Spiral of Silence Theory dan Media Ecology Theory. Dalam kacamata Mass Communication, konsep mengenai Framing juga sangat penting untuk memahami realita. Dari sini bisa dilihat bahwa agenda mana yang bisa diangkat sangat bergantung pada fenomena sosial apa yang sedang terjadi (explain this sociologist)

*Framing is How individuals, groups, and societies, organize, perceive, and communicate about reality.

Kenapa kita tidak perlu berfilsafat

Buku Dunia Sophie, saya mengetahuinya sekitar tahun 2000 diawal kuliah. Buku yang banyak dirujuk oleh teman-teman dari jurusan humaniora (humanities/ilmu budaya/sastra) dan banyak juga dirujuk dari jurusan ilmu sosial (isipol), khususnya ilmu komunikasi, bahwa ini buku yang bagus untuk belajar jurnalistik dan embel-embel novel filsafat dibelakangnya.

Sayangnya buku ini tidak pernah bisa saya selesaikan, di minggu-minggu pertama saya kuliah. Memahami tulisan yang panjang dari sebuah buku tebal kurang menarik bagi saya. Apalagi harus dibandingkan dengan banyaknya kegiatan mahasiswa yang bisa dipilih diawal kuliah, dari acara himpunan hingga acara fakultas.

Coba bandingkan, mana yang lebih menarik, menghadiri makrab angkatan atau menyelesaikan membaca buku. Namun, alasan lain pada waktu itu karena lingkungan terdekat saya tidak pernah membicarakan mengenai buku ini. Tetangga kost saya, yang orang tua saya percayakan karena berasal dari kota yang sama tidak pernah membahas buku ini. Orang yang saya kenal juga tidak pernah membahas buku ini.

16 tahun kemudian, saya melihat buku ini kembali. Saya pun tidak bisa menyelesaikan buku ini, tapi bukan berarti saya tidak mengetahui apa isi buku ini. Review di goodreads, wikipedia bisa menggambarkan apa isi buku ini. Bahkan tidak hanya Dunia Sophie, pementasan Waiting of Godot yang kelasnya sama filosofikalnya pun bisa saya nikmati saat ini, versi Indonesia, versi Inggris, pementasan lokal, pementasan internasional.

Lebih lanjut, filsafat juga menjadi bagian hidup saya, paling tidak dalam 2 tahun terakhir ini. Belajar filsafat yang pada tempatnya.

Diujung saya pun menerawang apa yang terjadi 16 tahun yang lalu, kesimpulan saya mungkin sinis melihat Passing Grade jurusan IPS yang sebagai berikut: Akuntansi 60%, Manajemen 58%, HI 58%, Komunikasi 56%, Ilmu Ekonomi 55%, Psikologi 55%, Filsafat 41%, Sosiologi 40%. Statistiknya, ilmu bukanlah hal yang secara rasional menarik.

Saya membayangkan kalau diawal tahun 2000 itu saya memaksa diri saya menyelesaikan buku Dunia Sophie, mungkin saya tidak hanya tidak pernah membaca buku yang lain, tapi bahkan tidak pernah melihat dunia lebih jauh dari perpustakaan yang sempit.

Filsafat hanya berguna jika ia difungsikan, dalam laboratorium ilmiah atau dalam penyusunan tulisan. Diluar itu ia tidak berguna, tidak bisa menyelesaikan masalah, hanya membuat bingung tanpa solusi yang nyata.

Buat anak muda, berfungsilah dengan baik.