Menulis: antara mencatat dan menyampaikan

Menulis memiliki dua fungsi, untuk mencatat dan menyampaikan. Kalau seorang tokoh suka menulis artinya ia suka menyampaikan, tapi bisa jadi bagi si tokoh tersebut apa yang dilakukannya tidak lebih dari mencatat. Buat saya, yang masuk kategori belum sukses, maka menulis harus berfungsi sebagai catatan, bukan sebagai pesan. Kalau diibaratkan HP, maka tulisan saya ini lebih pada notes, google keep lah kira-kira, sementara kalau sudah berhasil, maka kategori tulisan saya adalah sms atau pesan whatsapp.

Jadi, paling tidak ini yang akan saya tulis, berdasarkan beberapa kejadian penting diminggu belakangan ini. Pada dasarnya, seperti saya melihat ulasan seorang tokoh. Si tokoh tersebut untuk bisa berhasil harus mengeluarkan unlimited committment untuk pencapaiannya. Mau jadi apapun beliau, harus dilakukan dengan sepenuh hati, dengan habis-habisan.

Stress

Suatu hari, bos saya dikantor marah, saya datang terlambat pada rapat presentasi tender. Namun setelah rapat bos saya berubah memuji-muji saya, pasalnya dalam rapat presentasi itu, perusahaan kami dinyatakan sebagai pemenang tender. Meski awalnya bos saya memaki-maki, diakhir rapat semua orang keluar dengan tertawa lepas, tidak ada satupun yang ingat kejadian marah-marah pagi tadi.

Tim kami terdiri dari tiga orang, si A bisa cepat berdamai dengan kejadian tadi tanpa stimulus apapun. Si B berdamai dengan main game dan menonton film favoritnya, sementara si C lebih banyak menulis dan curhat dengan teman-teman bermainnya. Baik si A, B maupun C sama sama memiliki respon stress terhadap situasi diatas. Stress manajemen yang lebih baik tidak ada yang tahu, dan tidak semua resep stress sama mujarabnya.

Manusia pada dasarnya sama

Emosi adalah salah satu fitur manusia yang paling unik, manusia ketika melihat sesuatu, film misalnya bisa tertawa, merasa senang dan menangis. Fitur ini sama dimiliki oleh semua manusia. Akibatnya jika ada pendapat yang mengatakan bahwa manusia itu egois, maka ini adalah pendapat yang berlaku secara universal, semua manusia egois, mementingkan kepentingan dirinya daripada kepentingan orang lain.

Dari sudut pandang ilmu pengetahuan, semua manusia adalah sama, namun dari sudut pandang bermasyarakat manusia sulit untuk dipahami. Ketidak konsistenan ini membuat orang memiliki penilaian yang berbeda, pemahaman yang berbeda dan pendapat yang juga berbeda.

Emosi mempengaruhi manusia, pengetahuan mempengaruhi manusia. Contoh, seorang anak hidup dalam lingkungan masyarakat yang homogen, hanya terdiri dari satu ras, dia hidup dalam lingkungan keluarga kecil yang minim konflik. Anak ini hidup sebagai anak yang toleran, suatu ketika ketika kuliah dia menjumpai perlakuan tidak menyenangkan pada dirinya, akibatnya anak ini tumbuh menjadi anak yang intoleran, emosi mempengaruhi dirinya.

Ketika bekerja, anak ini mendapatkan pelajaran, bahwa ada aturan yang melarang sikap intoleransi, anak ini pun patuh, kemudian menjadi anak yang toleran. Seiring berjalannya waktu, kira-kira anak ini pada akhirnya menjadi toleran atau intoleran tidak bisa kita prediksi. Konflik bisa merubah pandangan anak ini mengenai bagaimana interaksi antar manusia.

Buat saya, sulit untuk menentukan pola pikir yang konsisten. Hari ini saya bisa menjadi diskriminatif, demanding (intoleran) sementara hari esok saya bisa menjadi egaliter dan flexible.

Kata yang unik
Mengatakan bahwa si A selalu melakukan suatu hal secara terus menerus, dari sisi positif bisa dikatakan sebagai konsisten namun dalam sisi negatif bisa dikatakan sebagai demanding, intoleran. Namun, mengatakan si B tidak pernah melakukan suatu hal secara terus menerus, dari positif bisa dikatakan sebagai flexible, namun dari sisi negatif bisa dikatakan sebagai unadaptable (pembosan)

Akhirnya, saya tidak ingin terjebak pada permainan kata. Orang bisa menyimpulkan bahwa semua orang sama rasisnya, tapi perilakunya berbeda. Pernyataan yang sama dengan menyimpulkan bahwa orang berbeda pandangan rasialisme, tapi orang selalu demanding, menuntut orang untuk mengikuti suatu aturan tertentu. Padahal dua pendapat ini mengacu pada satu hal yang sama.

Latihan: Simulasi, Persiapan, Pengulangan

Perjalanan kemarin memberikan saya beberapa perjalanan penting. Hal yang saya rasa baik adalah mempersiapkan daftar nomor passpor dalam satu lembar kertas. Hal ini terbukti efektif sehingga proses pemeriksaan imigrasi berjalan dengan cepat. Tahapan simulasi perjalanan ini sangat efektif dan sudah digunakan beberapa kali dipraktekkan.

Hal ini kemudian saya ulang pada persiapan trip ke US, intinya sebuah itinerary harus dibuat dalam selembar kertas sehingga memudahkan untuk dibawa. Informasi yang juga perlu disajikan dalam perjalanan adalah kolom biaya (tranportasi dalam kota, biaya attraction, biaya jajan)

Perjalanan pada dasarnya adalah untuk menggali langkah-langkah manakah yang paling baik untuk digunakan pada proses berikutnya. Semacam R&D, bukan implementasi.

Seminggu Detox Internet

Hal pertama yang saya ingat setelah pulang dari perjalanan ke Belanda adalah mengunfollow satu akun twitter berita yang memposting dengan masif. Hal selanjutnya adalah membalas email yang meminta salah satu pekerjaan dilakukan. Selesai sebenarnya, kebutuhan laptop saya selama satu minggu hanya untuk satu pekerjaan penting saja dan satu pekerjaan yang tidak bisa dilakukan di smartphone.

Seminggu ini agenda saya adalah melihat reddit, 9gag, chirpstory, twitter, facebook dan kaskus buat saya 5 situs ini adalah hiburan satu arah yang menyenangkan. Tanpa berpikir, bisa membuat tertawa dan bisa membuat saya merasa punya kehidupan yang lebih baik.

Dirumah, lebih tepatnya di depan laptop, yang saya lihat bertambah menjadi kompas dan dailymail. Artinya dengan 5+2 buah website cukup sebenarnya buat saya untuk mendapatkan hiburan dari internet. Seringkali kalau semua konten sudah terbaca, tambahan yang sering saya gunakan adalah quora. Wikipedia dan Google tidak saya masukkan dalam list, karena fungsinya bukan untuk hiburan yang sewaktu-waktu dibuka.

Kembali ke rutinitas
Setelah dikantor, saya mengecek ulang kebutuhan saya untuk mengkonsumsi internet. Ternyata tidak setinggi 2 hari yang lalu. Saya sama sekali tidak membutuhkan berita lokal mengenai Indonesia. Internet pagi ini yang dibutuhkan hanya reddit dan itu sudah cukup memenuhi kecanduan saya dipagi hari.

Menjelang siang, saya tidak lagi butuh berita dari kompas/dailymail. Saya baru menyadari bahwa yang saya butuhkan sebenarnya cukup reddit. Kenapa saya bisa terjebak dari sekedar berita Kompas kemudian menjadi membaca chirpstory bahkan twitter dan facebook tidak lebih dari kondisi sakaw (withdrawal syndrome). Akhirnya, saya bisa sedikit tenang, kecanduan apapun bentuknya memang sangat sulit dihindari dan lebih lanjut sangat sulit untuk disadari, orang seringkali terjebak.

260+ kata, di hari yang cerah

Kenapa saya berhenti menulis energi

Saya kira ini akhir dari perjalanan menulis opini saya. Saya melihat beberapa draft tulisan terakhir yang ingin saya buat ke media, poin yang saya ingin sajikan sebenarnya menarik media, tapi dangkal dari sisi ilmiah. Saya menyajikan data namun data tersebut dipertanyakan akurasinya, juga dipertanyakan interpretasinya.

Contoh tulisan mengenai energi yang ingin saya tulis sebagai beriku

What I am going to emphasized:
1. we don’t need infrastructure Mr president, we need power
2. power means energy, not electricity
3. quest of infrastructure is long term

What is the argument:
1. land acquisition is main issues
2. economics of infrastructure
3. strong argument means nothing
4. private sector, loan and neoliberal policy
5. infrastructure, public facility or private consumption

Tapi setelah saya lihat lagi, yang perlu ditekankan adalah apa yang sebenarnya saya bidik, apakah mendukung pemerintah atau tidak mendukung pemerintah, itu saja. Ujungnya adalah untuk meminta sebuah keputusan untuk dibuat, yang artinya menekan pihak yang lain. Ini yang akhirnya saya simpulkan, saya tidak berbakat dalam bidang seperti ini.

Mencari materi pengajaran: jujur

Dibandingkan pekerja profesional lain, mungkin saya termasuk yang paling rajin belajar. Mulai dari belajar sertifikasi hingga belajar akademik. Ilmu yang saya pelajari ini beragam, dari audit TI, keamanan TI, pengelolaan proyek hingga ilmu akademik.

Kalau ditanya, ilmu yang saya miliki itu bermanfaat tidak di dunia kerja? jawaban jujurnya adalah tidak bermanfaat. Iya, saya pernah bertemu petinggi bos dikantor juga mengatakan bahwa pendidikan lanjut dan pendidikan sertifikasi tidak dibutuhkan di dunia kerja.

Lalu kalau tidak berguna di dunia kerja, buat apa mengambil pendidikan lanjut? jawabannya adalah untuk bekal tambahan, untuk suplemen dalam bekerja. Hanya bersifat tambahan, tidak diambil pun tidak apa-apa.

Buat saya pribadi, mengambil pendidikan lanjut sebenarnya tidak mencerminkan kemampuan pengelolaan waktu dengan baik, lebih lanjut juga tidak meningkatkan kemampuan analisis yang lebih baik. Ini dua hal berbeda yang tidak perlu dihubung-hubungkan.

Belanda, negara superpower pertanian?

A: Belanda itu pertaniannya maju lho, exportir pertanian terbesar di dunia setelah US ref, keren ya, dari jaman VOC udah dagang pertanian soalnya.

B: Yakin?, bukannya yang besar export bunga (66% world market share), tomato (25%), cabe, timun (33%). Kalau export staple food semacam gandum, beras kayanya kalah deh.

A: Ya, artinya pintar kan, cari product yang tingkat ekonomisnya tinggi ref. Coba dengan hanya 4% labour force, bisa mendominasi 21% ekspor ref. Bandingkan dengan China dan India yang termasuk produsen terbesar dunia, tapi ekspornya rendah.

B: Tapi lihat di atlas economic complexity, kayanya ga besar-besar amat pertanian di Belanda. Data sering misleading ya, tourism misalnya bisa terlihat tidak signifikan di belanda ref. Ekonomi itu masalah politik lah.

Penonton

Buat saya, film yang paling menarik adalah film tentang superhero. Saya bisa meresapi perjalanan si hero, bagaimana dia menggunakan kekuatannya, dan bagaimana dia dipuja. Film seperti Superman atau Ironman misalnya.

Tapi, tidak semua orang suka superhero. Teman saya malah anti sama sekali. Dia lebih suka film romantis, mengenai bagaimana seorang lelaki berusaha mengejar, memuja dan berkorban demi si perempuan.

Buat saya film romantis tidak realistis, mana ada orang yang sebegitunya berkorban buat orang lain. Sementara buat si teman, film hero, jauh tidak realistis. Ini masalah selera, sama seperti masakan manis dan asam. Mana yang lebih baik? tergantung dari penikmatnya, tergantung dari penontonnya.