Akal sehat

Saya punya kebiasaan buruk membanding-bandingkan antara satu hal dengan hal lain. Contohnya membandingkan antara kinerja saya dengan kinerja senior diangkatan sebelumnya. Kebiasaan yang sebenarnya tidak baik ini masih sering saya lakukan. Membandingkan sesuatu sebenarnya tidak ada gunanya. Tapi, coba kita lihat sedikit hal yang tidak berguna ini.

Beda 1-3 tahun (lahir 1980an)
Saya angkatan 2000, ketika kuliah saya suka membandingkan dengan angkatan 1999 dan 1997. Angkatan 99 untuk memprediksi apa yang terjadi tahun depan, 97 untuk memprediksi apa yang terjadi ketika lulus. Hasilnya lumayan, saya jadi lebih siap menghadapi kenyataan hidup.

Beda 8-12 tahun (lahir 1970an)
Ketika pertama bekerja ditahun 2004, saya mulai lagi membandingkan dengan angkatan yang lebih senior. Angkatan 1992 yang usianya sudah 30 tahun pada waktu itu, dan angkatan 1988 yang merupakan angkatan pertama Ilmu Komputer UGM. Continue reading “Akal sehat”

Jomblo, Nikah dan Punya Anak

Saya baru tersadar bahwa apapun status kita, tidak berpengaruh dengan performa kita. Contoh berlari, apakah orang yang jomblo, nikah atau punya anak, jika diadu lari, pemenangnya bisa siapapun. Orang jomblo tidak berarti waktunya lebih banyak dibandingkan yang menikah, yang punya anak juga tidak berarti tidak punya waktu sama sekali untuk berlari.

Apakah orang yang punya anak punya motivasi yang lebih besar dibandingkan jomblo? tidak. Ini tidak ada hubungannya.

Berkemas

Sejak kecil saya sering mendengar cerita mengenai betapa tidak enaknya hidup berpindah-pindah. Cerita mengenai teman yang berpindah dari satu provinsi ke provinsi lain merupakan cerita yang tidak pernah saya sukai. Teman saya, kelas 1-3 di Papua, kelas 3-4 di Palembang, kelas 1-3 SMP di Cirebon, SMA pindah lagi ke Bandung. Membayangkannya saja sudah capek.

Dan cerita mengenai si teman ini bukanlah satu-satunya cerita yang saya dengar mengenai betapa tidak enaknya berpindah-pindah. Ada cerita mengenai orang yang rumahnya mengontrak, sehingga setiap pergantian tahun kontrak harus berharap-harap cemas apakah rumah bisa dilanjutkan atau tidak.
Continue reading “Berkemas”

Bahaya membaca koran dan buku

Saya baru menyadari bahaya membaca setelah melihat bahwa tidak ada yang bisa dihasilkan dari membaca. Membaca itu sifatnya pasif, hanya berguna sebagai alat bantu berpikir. Ketika berpikir sudah bisa dilakukan maka membaca harus segera dihentikan.

Sebagai alat bantu, membaca bisa membuat berpikir menjadi tumpul. Tidak lagi berfungsi sebagai alat bantu tapi sebagai alat penghambat berpikir.

Membaca mungkin berguna sebagai fakta semisal menelan permen karet tidak berbahaya atau berlari setiap hari baik bagi kesehatan. Namun kebanyakan fakta tidak berguna seperti morse yang lebih cepat dari text message atau bahwa gusdur dan sukarno meninggal umur 69 dan suharto umur 87. Continue reading “Bahaya membaca koran dan buku”

Batubara, Sawit, Migas dan Masa Depan

coal-palm-oil-growth

Tahun 2006 saya baru mendengar bahwa Sawit dan Batubara adalah industri yang bermasa depan cerah. Hal ini tentu hal yang baru buat saya. Dari yang seumur hidup tidak pernah mendengar batubara dan sawit, tiba-tiba semua orang membicarakan mengenai batubara dan sawit.

Cerita berlanjut, dari pengamat batubara kelas warung hingga analis sawit di kelas investment banking. Butuh waktu sekitar 4-5 tahun, dari masyarakat yang tidak pernah mendengar cerita mengenai sawit dan batubara hingga masuknya berita ini di bursa saham dan pemilu.

Singkat kata konon di akhir 2010 harga komoditas andalan Indonesia ini mulai jatuh. Dan sekarang, artikel yang ditulis di surat kabar nasional adalah mengenai permintaan agar pemerintah menjamin harga batubara. Sama seperti cerita mengenai keinginan agar pemerintah membeli harga gabah, cabai dan komoditas lainnya.
Continue reading “Batubara, Sawit, Migas dan Masa Depan”

Rumus mengelola sosial media

Saya membaca sebuah pembahasan mengenai bagaimana cara mengelola sosial media dengan baik, salah satunya mengelola twitter. Menurut beliau, salah satu cara untuk meningkatkan jumlah follower di twitter adalah dengan menambah frekuensi posting. Kurang lebih pesan yang ingin ditunjukkan adalah semakin banyak posting maka semakin banyak pula follower kita.

Pendapat ini saya tidak setuju. Justru, akun yang tweet-nya berlebihan ini membuat saya unfollow, kalau saya masih penasaran setelah unfollow saya masukkan dalam fitur list. Untuk teman baik yang jumlah tweet-nya berlebihan langsung saya mute. Selesai.

Contoh Economist yang punya follower 14 juta ini frekuensi posting bisa mencapai 100 posting per hari. Buat saya membaca update dari Economist ini sangat menarik, tapi dengan frekuensi yang sangat tinggi terpaksa saya mute dan masukkan dalam list, karena saya masih penasaran.

Maka saya terkadang heran, bagaimana para tokoh dan seleb bisa mengquote artikel dari Economist atau sumber lain seperti World Economic Forum atau lembaga internasional yang punya sepasukan orang untuk mengelola sosial media. Bagaimana mungkin kita, dengan keterbatasan kita bisa mengimbangi luapan informasi yang demikian banyaknya.

Political Issues is

Political issues is not about right or wrong. Let see some examples:
– Masela Onshore vs Offshore. Both options is can be good or can be bad. Each decision affected by government decision. It is a political issues. Each of option has their own supporter.
– Should government control the Coal price. Is influencing government decision, it is political issues.

Another issues in today’s Kompas:
– Should we limit the faculty of medicine (doctor) or not -knowing we have like 75 faculty, more than what 35 faculty required. It is not people issues, is government decision issues, therefore it is a political issues.

I don’t think that people interested in ordinary people issues, people interested in power. However to achieve the power, they use people issues. For example, I think the most important issues for teenager is love, not drugs, education. But love is not a national sexy issues.

Well, I should close my twitter soon.

Bersyukur

Saya, maunya bisa bekerja teratur delapan jam perhari. Masuk jam 8.00 pulang jam 17.00 atau masuk jam 7.00 dan pulang jam 15.00 seperti bapak saya dulu atau kakek saya terdahulu yang jadwalnya bisa rutin bertahun-tahun. Namun saya sadar bahwa jadwal yang rutin itu tidak mungkin bisa didapatkan. Di tahun 1990an saja, bapak saya mulai mengenal konsep lembur, kerja bisa larut sekali karena mengelola mesin yang beroperasi 24 jam.

Begitu di Jakarta, konsep teratur delapan jam sehari pun berantakan. Untuk transportasinya saja butuh 3 jam dalam sehari. Kantor saya punya jam masuk jam 09.00 sampai jam 18.00, tapi yang terjadi adalah dari jam 07.00 sudah berangkat dan baru pulang ke rumah jam 21.00. Hampir 15 jam kalau dihitung sampai kondisi dirumah sudah mandi dan berbenah. Kondisi yang juga tidak ideal.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi ini jika harus bekerja dengan penghasilan seadanya, dengan anak, biaya hidup yang tinggi dan segala kerumitan hidup lainnya. Rasanya tidak pernah ada kondisi ideal.

Kepala saya rasanya sakit sekali saat membayangkan bagaimana kondisi yang ideal seharusnya diciptakan oleh orang.

Contoh, kerja di kantor misalnya. Bagaimana mungkin, orang bisa bekerja 8 jam sehari dengan baik tanpa ‘curang’. Mencuri waktu menjemput anak, mengakali rapat hingga sekedar memilih-milih pekerjaan. Praktek ini sudah lazim dilakukan oleh banyak orang, tentunya tidak berujung pidana atau pelanggaran berat. Tapi tidak ada orang yang hidupnya baik-baik, tanpa melakukan kecurangan kecurangan kecil.

Bahkan untuk bersyukur saja orang saat ini harus berbuat curang.

Tapi kemudian saya tersadar, bahwa untuk bersyukur saja, orang memerlukan keikhlasan, orang perlu berbuat curang dengan dirinya, menghilangkan target dan ambisi pribadinya. Mengingat bahwa ini semua akan berakhir. Bersyukur.

Age of Propaganda

I read interesting quotes today from Vaclav Smil on the globalization, he said that in term of products it getting uniformed, for example, all people in the world either uses Iphone of Samsung Galaxy, in term of sosial media people use Facebook or Twitter, so everything getting standardized. But in term of conflict, it is getting greater, or in term of inequality it also getting bigger.

So basically, there is a global campaign to use something, which is an efficient way. And also becoming something, which also efficient, but prone to conflict.

Mengenal Jawa Barat dan Cirebon

Map_of_West_Java_with_cities_and_regencies_names

Sumber Gambar Wikipedia

Waktu saya kecil, saya sangat percaya bahwa kota Cirebon adalah kota terbesar kedua di Jawa Barat. Doktrin ini terpatri begitu kuat bagi saya, mulai dari posisinya strategis dipinggir pantai, punya kualitas air minum yang sangat baik, hingga gunung Ciremai dan cerita mengenai kejayaan kerajaan Cirebon terdahulu.

Doktrin ini nampaknya sedikit demi sedikit mulai bergeser, terutama setelah era otonomi daerah. Cirebon yang saya pikir dulunya merupakan pusat dari karesidenan wilayah III Cirebon ternyata merupakan wilayah kota yang sangat kecil. Jumlah penduduknya kecil, APBD-nya kecil -tentunya dibandingkan dengan kota-kota lain di Jawa Barat. Dari sebelumnya merupakan kota kedua terbesar di Jawa Barat, sekarang kondisinya secara angka bisa dikatakan sebagai kota paling kecil kedua di Jawa Barat.

Tabel dibawah menjelaskan bagaimana kondisi jumlah penduduk dan APBD dari kota di Jawa Barat. Jumlah penduduk menentukan berapa potensi perekonomian yang bisa tumbuh, sementara posisi geografis termasuk luasan wilayah menjadi batasan sejauh mana potensi tersebut bisa dikembangkan

No Kota Penduduk 2010 APBD 2016 Wilayah
1 Bekasi 2,334 rb 4.4 T 213 km2
2 Depok 1,738 rb 3.1 T 119 km2
3 Bogor 950 rb 2.1 T 111 km2
4 Sukabumi 298 rb 1.2 T 48 km2
5 Cimahi 541 rb 1.1 T 41 km2
6 Bandung 2,394 rb 6.1 T 168 km2
7 Tasik 635 rb 1.1 T 184 km2
8 Banjar 175 rb 130 km2
9 Cirebon 296 rb 1.4 T 40 km2

Kota Cirebon bersama kota kota lain di Jawa Barat memiliki dilema yang sama. Wilayahnya terbatas, APBD-nya kecil. Sementara Kabupaten juga memiliki dilema yang sama rumitnya, meski dananya terlihat besar hingga 3-4 kali lebih besar dari kota, namun wilayahnya juga sangat luas. Pembangunan di wilayah yang luas, sangat sulit dilakukan. Sama seperti dilema Indonesia dan luas wilayahnya.

Lalu, bagaimana dengan tren urbanisasi? kalau mengacu pada teori urbanisasi maka kedepan populasi kotalah yang akan semakin membesar, khususnya dalam bidang jasa, seperti pendidikan, hiburan dan perdagangan.