Social Safety Net

social-safety-net

Baru lihat infografis ini di beritasatu, mengenai Social Safety Net. Menarik. Karena sebenarnya uang yang dimiliki besarnya cenderung tetap, yang membedakan adalah masalah pengelolaannya. Contoh, dari bappenas disampaikan mengenai Perlindungan Sosial di Indonesia, kemana saja distribusi ke kementerian dan lembaganya.

Berikut rincian alokasi bantuan sosial 2014 (berdasarkan data Kementerian Keuangan) yang telah mengalami perubahan pagu menjadi Rp 91,81 triliun:
1. Kementerian Dalam Negeri sebesar Rp 9,44 triliun
2. Kementerian Pertanian sebesar Rp 5,35 triliun
3. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebesar Rp 28,33 triliun
4. Kementerian Kesehatan sebesar Rp 19,93 triliun
5. Kementerian Agama sebesar Rp 12,68 triliun
6. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebesar Rp 32,6 miliar
7. Kementerian Sosial sebesar Rp 5,54 triliun
8. Kementerian Kelautan dan Perikanan sebesar Rp 611,4 miliar
9. Kementerian Pekerjaan Umum sebesar Rp 3,91 triliun
10. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebesar Rp 49 miliar
11. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah sebesar Rp 285 miliar
12. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal sebesar Rp 766,5 miliar
13. Kementerian Perumahan Rakyat sebesar Rp 1,79 triliun
14. Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebesar Rp 50 miliar
15. Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo sebesar Rp 4,7 miliar
ref

Roadmap (diterjemahkan peta jalan) ketenagakerjaan di Indonesia ref

14 Kriteria Miskin menurut BPS

Ini kenyataannya, banyak program ekonomi, program energi, kesehatan dan pendidikan di Indonesia yang menghadapi tantangan berat, sesederhana jumlah yang harus ditangani sangat banyak.

Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2 per orang
Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan
Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.
Tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain.
Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.
Sumber air minum berasal dari sumur/ mata air tidak terlindung/ sungai/ air hujan.
Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/ arang/ minyak tanah
Hanya mengkonsumsi daging/ susu/ ayam dalam satu kali seminggu.
Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun
Hanya sanggup makan sebanyak satu/ dua kali dalam sehari
Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/ poliklinik
Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 500m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan
Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/ tidak tamat SD/ tamat SD.
Tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,- seperti sepeda motor kredit/ non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya

Berempati

open-defecation

Saya bingung, mulai dari mana, yang jelas angka 14% penduduk Indonesia masih melakukan praktek “open defecation” just sad ref. Toilet adalah luxury. Kalau dilanjutkan dengan penduduk Indonesia yang masih menggunakan kayu bakar sekitar 30%. Dilanjutkan lagi dengan penerima bantuan sosial 94,4 juta penduduk (kalau dilihat dari penduduk miskin sekitar 10% atau 28 juta penduduk).

Menghitung kewajaran harta kekayaan

Kelas 5 Milyar – PNS Professional
Agus Rahardjo, ketua KPK saat ini merupakan salah satu putra terbersih yang bangsa Indonesia punya. Pada tahun 2012, pada saat Agus Rahardjo berusia 56 tahun, beliau melaporkan harta kekayaannya sebesar 2,4 milyar. Sebagai lulusan Teknik Sipil ITS yang menghabiskan hampir 20 tahun pertama berkarirnya di Bappenas, angka 2,4 milyar merupakan angka yang sangat wajar sebagai orang PNS professional yang banyak berkarir di pusat. Sebagai perbandingan, Sudirman Said melaporkan sebesar 0,4 milyar (tahun 2010?) namun di tahun 2014 Sudirman Said melaporkan kekayaannya sebesar 2,2 milyar.

Anies Baswedan melaporkan sebesar 3,9 milyar (Nov 2014), kemudian dilaporkan sebesar 7,3 milyar (Nov 2016). Djarot Hidayat 6,2 milyar (Nov 2016)

Kelas 5-10 Milyar – PNS Strategis
Tito Karnavian, Kapolri saat ini, pada tahun 2014 melaporkan harta kekayaannya sebesar 10,2 milyar diraihnya pada usia 50 tahun. Angka ini juga menurut saya wajar. Kurang lebih sama seperti harta kekayaannya Panglima TNI yang pada tahun 2015 juga berkisar 7,1 milyar. Kapolri dan Panglima TNI tentunya wajar memiliki kekayaan lebih tinggi dibandingkan seorang PNS professional. Kapolri dan Panglima TNI pada umumnya berkarir secara berpindah-pindah. Dibandingkan orang yang karirnya menetap, orang yang berpindah-pindah umumnya lebih mampu membuat keputusan finansial yang lebih baik dibandingkan mereka yang posisinya menetap. Sebagai perbandingan, PNS Strategis seperti Menlu Retno Marsudi melaporkan sekitar 6 Milyar. Atau jaman dahulu Menteri PU Djoko Kirmato yang juga PNS karir melaporkan harta kekayaannya sekitar 4,9 Milyar.

Kelas 20 Milyar – Professional Swasta
Ignatius Jonan, pada saat menjabat Dirut KAI melaporkan kekayaannya sebesar 23 milyar. Arief Yahya, pada saat menjabat direktur Telkom melaporkan kekayaannya sebesar 24 milyar. Rudiantara melaporkan sebesar 32 milyar. Ahok 25 milyar (Nov 2016).

Ref, Ref

Percayakan pada professional

Latar belakang pendidikan saya adalah Ilmu Komputer UGM, istri saya juga lulusan Ilmu Komputer UGM. Namun sedari kuliah, saya menyadari bahwa saya tidak berbakat dalam bidang utama komputer seperti programming atau networking. Meskipun demikian, saya sempat menikmati bagaimana bekerja sebagai programmer di perusahaan manufaktur sekelas Astra dan sebagai system admin di perusahaan telekomunikasi sekelas XL.

Karir professional saya dimulai pada tahun 2004 dan hingga 2014, pekerjaan saya utama adalah sebagai konsultan teknologi informasi. Dimana motto saya adalah apapun diluar software dan hardware bisa saya kerjakan. Jadi kalau ada tender yang produk akhirnya berupa kertas dan ada kata teknologinya, saya bisa kerjakan. Mulai dari pembuatan dokumen hingga pemeriksaan dokumen. Spesialisasi saya adalah documentware. Jadi kalau ada yang melihat bahwa dimensi IT itu hanya dua, yaitu software dan hardware, maka saya menambahkan dimensi ketiga, yaitu documentware.

Umumnya, cara yang paling sering digunakan dalam melihat dimensi IT adalah sudut pandang proses. Jadi kalau COBIT 4.0 melihat IT itu ada dimensi PO, AI, DS dan ME. COBIT 4.0 ini sudah ada sejak tahun 2005, dan menurut saya ini merupakan versi COBIT yang paling baik, tanpa perlu menggunakan versi 4.1 atau bahkan versi 5 yang sudah mencakup area Risk dan Security.

Menurut saya, organisasi paling kompleks di Indonesia sekalipun, semisal Mandiri/Telkomsel sendiri rasanya terlalu berlebihan bila harus comply pada COBIT 4.0 sekalipun. Yang jumlah karyawan TI-nya dalam orde ribuan orang dengan budget TI dalam kisaran trilyunan setiap tahunnya.

Jadi bisa dibayangkan bagaimana jadinya bila ada organisasi yang menginginkan organisasinya dirancang berdasarkan COBIT, TOGAF, PMBOK dan juga harus comply ke UU ITE, PBI, PerMen BUMN TI, hingga peraturan-peraturan tingkat menteri dan perundangan lainnya.

Kalaupun ini sudah bisa comply, maka organisasi juga harus melihat pada satu PR besar lainnya. Yaitu mengenai aspek business process. Yang juga tidak mudah. Artinya seorang documentware harus bisa melihat dari sisi project management, risk management hingga security management. Lebih lanjut aspek business process pun harus dikuasainya, seperti licensing hingga ERP implementation hingga core banking safeguarding. Rumit? pastinya.

Makanya, saya memutuskan untuk mengambil sekolah lagi. Sekolah paling tidak membuat saya melihat bahwa segala kompleksitas ini hanya merupakan satu panduan berpikir saja. Bahwa organisasi tidak bisa dilihat dari dimensi COBIT/ITIL/PMBOK/TOGAF saja. Harus ada yang bisa menghubungkan antara aspek TI dan aspek business process -yang semua orang sebenarnya bicara dalam bahasa yang sama, tapi bagaimana menghasilkan produk yang orang bisa anggap itu bagus adalah tantangan sebenarnya.

Kalau dalam kerangka riset, yang kita lihat sekarang mengenai documentware adalah masalah modelling. Nah, bagaimana bisa membuat sebuah model yang bisa memotret semua requirement dari berbagai pihak yang berkepentingan tersebut bisa terangkum dalam sebuah kerangka kerja. Itu yang paling penting.

Bagaimana menghasilkannya? percayakan pada professional.

Auditor Pemerintah

Saya kembali tersadar. Kalau di tender, pengalaman yang paling optimal sebagai tenaga ahli adalah sekitar 10 tahun. Kalau ada tenaga ahli kepala, mungkin bisa mencapai 15 tahun. Untuk pekerjaan yang bersifat teknis, misalnya mengembangkan kebijakan investasi, mungkin 20 tahun malah maksimal. Orang tadi sudah berumur sekitar 45-an, tahun. Tenaganya sudah mulai berkurang.

Kalau saya disuruh memilih, PM yang berumur 40 tahun dengan 50 tahun, saya pilih yang 40 tahun. kalau ada yang umur 45 pun, saya lebih pilih PM yang muda. Karena tugas PM adalah bekerja. Beda kalau saya memilih kepala perwakilan, maka saya akan memilih yang lebih senior. Namun kalau saya disuruh memilih kepala cabang (profit centre) maka saya akan pilih yang lebih senior.

Ada pekerjaan yang kompetensi yang dibutuhkannya adalah pikirannya (konsultan), karyanya (designer) atau kompetensi yang dibutuhkannya adalah leadership (political office balancing). Contoh memimpin fungsi internal audit tidak hanya masalah teknis, tapi juga non teknis mengelola orang yang beragam cara berpikirnya.

Yang jelas kita tidak bisa menguasai seluruhnya
Iya, hari ini kembali tersadar. Saya yang taruhlah 11 tahun terakhir mengikuti perkembangan audit TI, tiba-tiba hari ini bisa terbengong-bengong melihat bagaimana di pemerintahan menyelenggarakan pemeriksaannya. Ada berbagai aturan yang harus dipenuhi. Semacam APIP dkk.

Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP)
– Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
– Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara
– Peraturan Pemerintah RI Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah
– Permenpan Nomor 03 tahun 2008 tentang Standar Audit APIP
– Permenpan Nomor 04 tahun 2008 tentang Kode Etik APIP

Korupsi dan Pembangunan

Fadli Zon mengatakan korupsi adalah oli pembangunan, sesuatu yang secara normatif tidak benar. Namun bila dikaji dari sudut pandang yang lain, pendapat Fadli Zon ada benarnya. Bila pembangunan besar, maka kecenderungan korupsi akan meningkat -tentunya karena rantai supply bertambah panjang. Namun pembangunan dan korupsi akan efektif kalau pemerintahannya diktator, kalau pemerintahannya demokratis, rantai supplynya menjadi lebih panjang lagi. Demokrasi bisa jadi membuat proses semakin tidak efisien. ref

Keuangan: Solusi untuk Indonesia

Di media banyak ditulis bahwa kenaikan harga rumah di bekasi berkisar 17% pertahun. Tidaklah mengherankan kalau dari banyak media juga ditulis rata-rata kenaikan harga rumah bisa mencapai hingga 20% pertahunnya.

Indonesia negara berkembang, konon indeks keuangan inklusif di Indonesia baru mencapai 36% (Vietnam 31%, Thailand 78%, Malaysia 81%). Pemerintah punya target bisa mencapai 75% pada tahun 2019 melalui Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI). Keuangan inklusif ini menjadi penting karena nantinya Bantuan Sosial (Bansos) akan didistribusikan melalui sistem bank.

SNKI ini strateginya melalui beberapa pilar, yaitu
– Edukasi Keuangan
– Fasilitasi Keuangan Publik
– Pemetaan Informasi Keuangan
– Kebijakan/Peraturan Pendukung
– Intermediasi dan Saluran Distribusi
– Perlindungan KOnsumen

Momentum Baik

#01 Hari Baik
Buat saya hari yang paling baik adalah hari selasa, rabu dan kamis. Tiga hari ini merupakan hari yang baik untuk bertemu orang. Senin merupakan hari dimana orang cukup sibuk, sementara jumat merupakan hari dimana orang biasanya tergesa untuk pulang atau sudah terlalu letih bekerja selama seminggu.

Bahkan seorang teman saya percaya bahwa hari rabu merupakan hari yang paling baik untuk beraktivitas -misalnya berolahraga tennis, karena konon pada hari rabu sore, Jakarta tidak pernah hujan.

Buat saya, bila diperhatikan kurang lebih sama, deal bisnis biasanya lebih efektif dilakukan pada hari selasa, rabu dan kamis. Keputusan penting oleh perusahaan dibuat pada tiga hari tersebut.

#02 Jam Baik
Lain dimensi hari, lain pula dimensi jam. Jam paling mudah ketemu orang adalah sebelum atau sesudah makan siang. Jadi sekitar jam 11:00, sekitar jam 14:00 dan sekitar jam 18:00 untuk sore harinya. Diluar itu, bisa saja ditambahkan sesi pagi jam 08:00 atau sesi sore sekitar jam 16:00.

Namun mengatur jam dalam sehari tidaklah mudah. Ada faktor lokasi yang bisa jadi terlalu jauh. Misalnya agenda pertama di Cikini dan agenda berikutnya di Bintaro. Bahkan perjalanannya saja bisa memakan waktu 1-2 jam.

#03 Momentum Baik
Bicara hari baik, waktu baik sebenarnya adalah berbicara mengenai operation, bicara mengenai day to day bekerja. Konteksnya adalah sebuah pola, yang kalau digambar bisa berupa sebuah lemari buku dengan banyak pintu dan tumpukan buku.

Kalau mengumpulkan interview dengan target jumlah orang tertentu, cara bekerjanya bisa dilihat sebagai sebuah operation, tapi kalau ditargetkan dengan pembicara tertentu (bukan jumlahnya, misalnya harus mewancarai menteri), maka konteksnya harus dirubah.

Menginterview menteri tantangan terbesarnya bukan membagi waktu, tapi bagaimana bisa menemui dan meminta waktu si menteri. Proses interviewnya mungkin hanya 15 menit, tapi bagaimana mendapatkannya tidaklah mudah. Oleh karena itu harus fleksibel.

Saya, hari ini. Semua ini akan berakhir. Orang telco bilang perusahaannya bagus, sekarang belum tentu. Oil juga sama. Kalaupun industrinya bagus, dirinya akan semakin tua.

Nah untuk ini, kita harus belajar hal yang mungkin paling sulit. Melihat momentum baik. Momentum yang baik, biasanya diawal pendirian. Contoh waktu facebook baru berdiri, investor yang membeli saham facebook pada waktu itu tentunya sekarang kaya raya. Momentum baik biasanya ada diawal-awal.

Momentum baik lainnya adalah saat krisis tiba. Disaat itu ada peluang baru yang mungkin muncul saat angin berbalik arah. Berada saat awal perjalanan, disaat krisis merupakan pilihan momentum yang baik.

Namun hal-hal baik diatas, baik hari, jam maupun momentum, tidak lepas dari spekulasi. Prinsipnya mungkin sesederhana bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Selamat mencari kebaikan.